Tuesday, June 26, 2012

PROFIL MASJID JAMI’ RAUDHATUL MUTTAQIN DESA KOTARAJA


Secara garis besar dikutip dari riwayat sejarah secara turun temurun dari sejak berdirinya masjid ini sampai saat ini dimana dalam sejarah kiya jumpai ketekunan kebersamaan yang luar biasa dari tokoh-tokoh baik apa yang kita lihat saat ini.
  1. Sebelum di pindah ke kotaraja, terlebih dahulu masjid ini di bangun di desa Loyok kira-kira tahun 1500 M. Pada tahun 1691 M karena desa Loyok tidak mungkin di jadikan desa, maka masyarakat Loyok pindah membangun desa ke kotaraja dengan membawa bahan-bahan masjid di tahun 1111 H berupa :
    1. 4 buah tiang gurun yang terbuat dari kayu nangka yang ukurannya 30 cm x 30 cm panjang 6 meter
    2. 1 buah beduk dari kayu tenggasing. Konon beduk ini pernah juga di pakai sebagai tambur perang.

  1. 1 buah tutup tumpang (petaka) dari tanah liat yang di buat oleh Dende (nama bangsawan wanita sasak jaman dahulu)
  2. 2 buah balok panjangnya kira-kira 4 m yang ujung pangkalnya di ukir 
  3. 1 buah bungus berukir berdiameter  60 cm
  4. Bahan-bahan balok yang malang / belandar lampan (bahasa sasak) dan tekan ider/tiang kelilingnya semuanya kayu nangka yang berukuran 25 x 20 cm sedangkan usuknya kayu gendang daya (kayu kelar) yang ukurannya 9 x 13 cm.
  5. Kemudian pada tahun 1600 M zaman kerajaan Bali konon masjid ini di bangun dengan memakai atap alang-alang dan tembok bata cetakan (tanah mentah). Dengan ukuran 15 x 15 m oleh masyarakan yang di pimpin oleh Raden Sute Negare, Raden Lung Negare dan sebagai sesepuh agama Raden Mas Oda’ yang menangkap sampai imam masjid sekaligus sebagai petugas penanggung jawab soal agama di desa Kotaraja.
  6. Kira – kira pada tahun 1700 M atap alang alang itu diganti dengan memakai sirap bambu dan pada tahun 1700 M itu sesepuh agama di pegang oleh putra Raden Mas Oda’ yaitu jeroayah pengulu, kira-kira pada tahun 1700 M itu jeroayah pengulu meninggal dunia dimana tampuk di serahkan kepada putrinya yang bernama H Alimudin yang lazim dikenal dengan sebutan  Tuan Mimbar, sepeninggal tuan mimbar  di gantikan lagi oleh putranya H Imanudin yang lazim di panggil tuan imam.
  7. Ditahun 1890 M masjid ini diganti atapnya dengan menggunakan genteng dari Pulembang (bahasa orang yua dulu) bahasa sekarang Palembang, geteng – genteng tersebut di turunkan dari perahu di pelabuhan Labuan Haji di pikul bergotong royong oleh masyarakat kotaraja dari labuhan haji dan tembok tanah dig anti dengan bata merah dan campuran pasir + kapur (lohloh), kemudian pada zaman belanda mimbar dan jendela di beri ukiran / kaligrafi hurup arab hasil karya TGH. LL Abdurrahman yang dimakamkan di depan Masjid yang dikenal sebagai Balo’ Makam,
Adapun  1925, kemudian bangunan masjid sebelah utara ditambah dan disebut jajar oleh Raden Rumulang, sekaligus bersama masyarakat di bangun masjid untuk wanita.
  1. Pada tahun 1925 itu putra tertua dari H.L Mas’ud yang bernama H L Tajuddin diangkat sebagai khatib yang kemudian pada tahun 1947, H L Mas’ud meninggal dunia sehingga H L Tajuddin langsung menggantikan ayahnya sebagai imam di mana khatib di pegang H L saefudin.
  2. Ditahun 1968 dibangun tambahan masjid raudhatul muttaqqin  berukuran 25 X 35 X 10 M yang di pimpin oleh Raden Rumilang, H L Sirajuddin, H L Tajuddin dan H L Saefuddin bersama masyarakat kotaraja dengan memakai atap genteng dari Madura dan selesai dibangun pada tahun 1969.
  3. Petugas masjid waktu itu adalah H L Tajuddin sebagai imam, khatib H L Saefuddin dan H L Ridwan. Ditahun 1987 H L Tajuddin sudah uzur maka digantikan H Lalu M Irfan sebagai Khatib Jum’at dengan Imam H L Ridwan, pada tahun 1992 H L Tajuddin meninggal dunia maka H L Ridwan menjadi imam dan penghulu desa.
  4. Tahun 1996 dibangun tambahan masjid  dengan ukuran 47 x 37 x 8 m yang di pimpin oleh H L Ilyas, Tgh M Saleh, H L Ridwan , H L M Yunus, H L Abdul Mukti dan H L M Irfan bersama masyarakat yang selesai pada tahun 1997 yang memakai atap genteng pejaten Bali, kayu Kalimantan dengan lantai keramik putih. Pada tahun 1417 bulan Rabiul akhir tanggal 1 HL Ridwan  (imam masjid) meninggal dunia kemudian di gantikan oleh putranya HL M Irfan sebagai imam di masjid sekaligus sebagai penghulu desa Kotaraja dan khatib H Zaenuddin sampai dengan saat ini, petugas masjid jami’ adalah H L.M Irfan yang merupakan keturunan ke tujuh dari sejak di bangunnya masjid ini. Dan pada thun 1999 Masjid Jami’ Raudhatul Muttaqin sudah tercatat sebagai benda cagar budaya atau benda purbakala di kantor dinas kebudayaan dan pariwisata Tingkat I NTB. Tahun  2003 induk masjid di pugar ukuran 15  X 15 M yang bahan kayunya di ganti 75% bersama masyarakat di bantu oleh Dinas kebudayaan dan pariwisata tingkat I NTB, Kemudian seiring waktu pada tahun 2010 di bangunlah 3 buah menara masjid , sebuah menara yang berada di tengah berdiri megah setinggi 30 meter.   Semoga Bermanfaat...
 ( LALU HENDRI BAGUS SETIAWAN )

1 comments:

Dulu masjid Kotaraja, memang pindahan masjid dari Loyok (tempat itu sampai sekarang disebut pakulan), beduknya dulu aslinya menurut cerita para orang tua berupa Gong terbuat dari emas, mengapa masjid Loyok dipindah ke kotaraja, karena zaman dulu Loyok diserang oleh raja Bali yang bermarkas di Sakra, karena kalah perang orang2 Loyok pindah ke hutan (sekarang Kotaraja), karena Loyok sudah dibumihanguskan ole raja Bali dan sudah tidak layak dihuni, R. Lungnegara dan R. Sutanegara memindahkan kerajaan ke wilayah baru tersebut (kotaraja) termasuk masjid dan seisinya. Untuk memadamkan seandainya terjadi pemberontakan dari Loyok, maka ditempatkan orang-orang raja bali di loyok, yang sekarang wilayah itu dikenal dengan Presak (penghuni pendatang), makanya di Loyok orang2nya bisa menganyam bambu, karena interaksi dari orang2 raja Bali yang ditempatkan di Loyok. Seiring perkembangan daerah baru yang dulunya hutan (kotaraja) bermukim orang2 Loyok yang tetap tinggal, dan ada yang kembali lagi ke Loyok, pemerintahan ditetapkan di Kotaraja, untuk mewaspadai seandainya nanti daerah ini melakukan pemberontakan ke raja Bali, maka ditempatkan orang2 sebagai spionase yang sekarang wilayah itu disebut Marang, jadi orang2 Marang nenekmoyangnya dari Sakra, sedangkan di Presak Loyok dari Bali.

Post a Comment

TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI BLOG INI WALAU HANYA SATU MENIT